Selasa, 29 Januari 2013


SEMANGAT MELAYU PADA SAAT INI DENGAN IMPLIKASI GERAKAN-GERAKAN PRO DAN KONTRA ETNOSENTRIS




BAB I
PENDAHULUAN
I.1.       Latar Belakang Masalah          
            Suku bangsa adalah bagian dari suatu bangsa. Suku bangsa mempunyai ciri-ciri mendasar tertentu. Ciri-ciri itu biasanya berkaitan dengan asal-usul dan kebudayaan. Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mengenal suatu suku bangsa, yaitu: ciri fisik, bahasa, adat istiadat, dan kesenian yang sama. Contoh ciri fisik, antara lain warna kulit, rambut, wajah, dan bentuk badan. Ciri-ciri inilah yang membedakan satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Suku bangsa merupakan kumpulan kerabat (keluarga) luas. Mereka percaya bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Mereka juga merasa sebagai satu golongan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mempunyai bahasa dan adat istiadat sendiri yang berasal dari nenek moyang mereka.
            Sering kita temui keadaan dimasyarakat para anggotanya pada kondisi tertentu, diwarnai oleh adanya persamaan-persamaan dalam berbagai hal. Tetapi juga didapati perbedaan-perbedaan dan bahkan sering kita temui pertentangan-pertentangan serta menimbulkan suatu perbedaan kepentingan di dalam suatu kelompok.
            Perbedaan kepentingan sebenarnya merupakan sifat naluriah disamping adanya persamaan kepentingan. Bila perbedaan kepentingan itu terjadi pada kelompok-kelompok tertentu, misalnya pada kelompok etnis, kelompok agama, kelompok ideology tertentu termasuk antara mayoritas dan minoritas.
            Salah satuya perbedaan ini adalah perbedaan kelompok etnis yang terjadi saat ini. Sebagai konsekuensi dari identitas etnis muncullah etnosentrisme. Etnosentrisme yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan dipergunakan sebagai tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain. 
            Perbedaan kepentingan ini yang menimbulkan suatu pandangan etnosentris terutama pada masyarakat melayu. Sehingga dalam makalah ini penulis membahas bagaimana semangat melayu pada saat ini dengan implikasi gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris.
I.2.       Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu mengetahui bagaimana semangat meleyu pada saat ini dengan implikasi pada gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris yang terjadi sekarang ini serta apa saja sisi positif dan negatif yang ditimbulkan oleh hal tersebut.
I.3.       Batasan Masalah
            Agar pembahsan masalah ini menjadi lebih fokus dan berbobot, di dalam penulisan makalah ini akan membahas semangat melayu pada saat ini dengan implikasi gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris.
I.4.       Metode Penulisan
            Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu dengan mengambil informasi dari beberapa buku serta informasi-informasi beberapa artikel dari media internet.
I.5.       Sistematika Penulisan
            Adapun sistematika penulisan pada makalah ini yaitu :
-          BAB I :     PENDAHULUAN
Bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, tuuan penulisan, batasan masalah, metode penulisan, serta sistematika penulisan.
-          BAB II : PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan tentang pembahasan semangat melayu pada saat ini dengan implikasi gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris.
-          BAB III : PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan dari makalah ini dan saran yang penulis sampaikan kepada pembaca makalah ini.
-          DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam mengelola suatu lingkungan yang lebih luas cakupannya,  dalam lingkungan global misalnya, tantangan yang dihadapi akan menjadi lebih besar. Hal ini terjadi salah satunya karena adanya perbedaan-perbedaan, baik dalam hal budaya yaitu perbedaan etnik.
Sesuatu masyarakat atau budaya, seperti yang dinyatakan sebelumnya harus dipahami dalam peristilahannya sendiri. Dalam mengatakan demikian bukanlah berarti bahwa kita setuju dengan penggunaan satu bentuk ukuran umum untuk menilai sesuatu masyarakat. Ukuran tersebut tersebut mungkin mencakup umur, keluaran negara kasar (gross national product), hak demokrasi, tingkat melek huruf, dan sebagainya. Tidak berapa lama dahulu satu amalan yang sering dilakukan oleh masyarakat Eropa adalah menilai masyarakat di luar Eropa menurut persentase penduduk yang memeluk agama Kristen.
 Seandainya persentase itu tinggi maka tinggilah posisi negara tersebut menurut kayu ukuran yang digunakan. Penilaian terhadap manusia seperti yang dilakukan itu sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pendekatan antropologi. Jadi, jika kita ingin menilai mutu hidup dalam suatu negara atau masyarakat luar, kita harus terlebih dahulu memahami masyarakat itu dari dalam; jika tidak penilaian yang kita buat itu memiliki nilai ilmiah yang sangat terbatas. Apa yang dianggap sebagai 'gaya hidup yang baik' dalam masyarakat Eropa misalnya, tidak selalu menarik dan sangat-sangat diinginkan jika dinilai dari sudut dan posisi masyarakat lain. Untuk memahami arti sebenarnya kehidupan sosial suatu masyarakat, maka sangat perlu untuk kita mencoba mendalami terlebih dahulu bagaimana alam nyata sesuatu masyarakat dipahami dan dirasakan sendiri oleh anggota-anggotanya. Untuk berhasil dalam usaha ini, maka tidak cukup jika kita hanya memilih beberapa 'angkubah' saja.
Ternyata bahwa penggunaan konsep seperti 'pendapatan tahunan' tidak sesuai sama sekali untuk sebuah masyarakat yang tidak mengenal mata uang dan tidak tahu akan metode kerja yang diupah dengan uang. Penghujahan seperti di atas bisa dianggap sebagai peringatan dini terhadap etnosentrisme. Istilah tersebut berasal dari kata Yunani (ethnos berarti 'orang') etnosentrisme berarti bahwa kita menilai masyarakat lain dari kaca mata kita sendiri, dan menggambarkan mereka dalam peristilahan kita. Dengan demikian, fitur-fitur ethnos yang ada pada diri kita, termasuk nilai budaya kita, dijadikan tolok ukur dalam penilaian tersebut. Justru itu tidak heranlah jika orang lain atau masyarakat asing terlihat begitu rendah taraf sosial dan budaya mereka jika dipandang dari kaca mata ethnos kita.
            Pandangan etnosentrisme juga merupakan satu hambatan besar bagi usaha untuk memahami masyarakat dan budaya lain dalam peristilahan mereka sendiri. Sebenarnya antropologi tidak membandingkan masyarakat asing dengan masyarakat sendiri serta menyusun berbagai masyarakat pada tingkat tinggi rendah, serta menempatkan masyarakat kita pada anak tangga paling atas. Sebaliknya antropologi mengharuskan kita memahami masyarakat yang berlainan itu seperti yang terlihat dari dalam masyarakat tersebut. Antropologi tidak dapat memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang berbunyi seperti berikut: "Antara banyak masyarakat, masyarakat mana yang paling baik." Jawabannya memang tidak akan ada semata-mata karena memang bukan sifat alami disiplin antropologi untuk menanyakan pertanyaan seperti ini.
Jika ditanya apakah bentuk hidup dan masyarakat yang sempurna, maka antropologis hanya bisa memberikan jawaban bahwa setiap masyarakat itu memiliki definisi masing-masing terhadap pertanyaan tersebut yang sudah pasti memiliki pengertian yang berbeda. Lagipula, masalah etnosentrisme sangat sulit untuk dideteksi jika dibandingkan dengan pendirian yang bersifat moralis. Etnosentrisme juga bisa mempengaruhi konsep yang kita gunakan untuk memahami berbagai masyarakat di muka bumi. Misalnya kita tidak bisa menggunakan konsep 'politik' dan 'kekerabatan' untuk masyarakat yang ternyata tidak memiliki pemahaman dasar terhadap kedua konsep ini. Istilah politik mungkin ada dalam masyarakat asal anggota etnografis, tetapi istilah tersebut mungkin tidak ada dalam masyarakat yang dikajinya. Masalah dasar seperti ini akan dibahas kemudian dengan lebih mendalam lagi.
Ada teori yang menyatakan penduduk Indonesia berasal dari daratan Cina Selatan, Provinsi Yunan sekarang. Ada juga teori “Nusantara.” Mari kita bahas kedua teori ini. Menurut teori pertama Suku bangsa Yunan datang ke Indonesia secara bergelombang. Ada dua gelombang terpenting.
1. Gelombang pertama terjadi sekitar 3000 tahun yang lalu. Mereka yang pindah dalam pe-riode ini kemudian dikenal sebagai rumpun bangsa Proto Melayu. Proto Melayu disebut juga Melayu Polynesia. Rumpun bangsa Proto Melayu tersebar dari Madagaskar hingga Pasifik Timur. Mereka bermukim di daerah pantai. Termasuk dalam bangsa Melayu Tua adalah suku bangsa Batak di Sumatera, Dayak di Kalimantan, dan Toraja di Sulawesi.
2. Gelombang kedua terjadi sekitar 2000 tahun lalu, disebut Deutero Melayu. Mereka disebut penduduk Melayu Muda. Mereka mendesak Melayu Tua ke pedalaman Nusantara. Termasuk bangsa Melayu Muda adalah suku bangsa Jawa, Minangkabau, Bali, Makassar, Bugis, dan Sunda.

Etnosentris/ etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis.

            Menurut Matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu negatif sebagimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrisme, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan saling dukung satu sama lain.

Segi positif etnosentrisme :
1.      Menjaga keutuhan suatu bangsa dan stabilitas budaya
2.      Mempertinggi semangat patriotisme
3.      Dapat mempertinggi kesetiaan terhadap bangsa (right or wrong is my country)
4.      Dapat meneguhkan cinta tanah air

Segi negatif etnosentrisme :
1.      Mengurangi atau bahkan menghilangkan obyektifitas ilmu pengetahuan
2.      Menghambat hubungan antar bangsa
3.      Menghambat proses asimilasi dan integrasi

Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.

Lawan dari etnosentrisme adalah etnorelativisme, yaitu kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya sama (Daft, 1999). Dalam etnorelativisme setiap etnik dinilai memiliki kedudukan yang sama penting dan sama berharganya. Dalam bahasa filsafat, orang yang mampu mencapai pengertian demikian adalah orang yang telah mencapai tahapan sebagai manusia sejati; manusia humanis.

Adanya etnik lain yang muncul disekitar lingkungan, khususnya lingkungan masyarakat melayu memberikan suatu dampak pada perkembangan budaya melayu sendiri. Seperti munculnya etnik tionghoa yang berkembang pada masyarakat melayu. Pro dan kontra pasti terjadi dengan adanya hal tersebut, yang selalu membandingkan bahwa salah satu dari etnik ini menganggap etniknya yag terbaik sehingga timbullah suatu konflik antara kedua etnik ini.
Seiring dengan perkembangan zaman saat ini keberagaman etnik yang muncul perlahan-lahan diterima oleh masyarakat terutama masyarakat melayu seperti yang terjadi saat ini yang saling menjaga toleransi diantar kedua etnik tersebut. Selain itu dalam bidang pekerjaan pun saling membantu diantara kedua etnik tersebut yang mengenyampingkan etnik yang dimiliki.
Timbulnya pandangan etnosentris ini karena perbedaan kebiasaan yang sering dilakukan didalam lingkungan budaya kita sendiri, pada saat kita pindah ke tempat yang lingkungan budayanya berbeda dengan kita kebiasaan yang biasanya lazim dilakukan menurut mereka itu tidak pantas dan tidak baik sehingga hal tersebut menimbulkan perbedaan yang menganggap etniknya lah yang baik.
Menghormati keragaman suku bangsa
  • Menerima suku-suku bangsa lain dalam pergaulan sehari-hari. Dalam pergaulan di masyarakat, kita tidak hanya bertemu orang satu suku bangsa.  
  • Menambah pengetahuan kita tentang suku-suku lain. Mempelajari suku bangsa lain tidak harus datang ke daerah tempat tinggal mereka.  
  • Tidak menjelek-jelekkan, menghina, dan merendahkan suku-suku bangsa lain. Kita, manusia yang diciptakan Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama.  

Keragaman suku bangsa merupakan kenyataan bangsa kita. Inilah kekayaan bangsa kita. Kalau kita tidak menghormati suku bangsa sendiri, kita tidak akan menjadi bangsa yang kuat. Kita tidak boleh hanya membanggakan suku bangsa kita sendiri dan merendahkan suku bangsa lain. Kalau kita tidak menghormati keanekaragaman suku bangsa, tidak akan tercipta kedamaian dalam hidup bersama. Tidak adanya saling menghormati antarsuku bangsa akan menimbulkan konflik. Contohnya banyak. Antara lain konflik di Poso, konflik di Sambas, dan konflik di Maluku.

Sebagai konsekuensi dari  identitas etnis munculnya etnosentris , menurut Matsumodo(Mendatu,2006) , etnosentris adalah kecenderung untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentris tidak selalu negative sebagaimana  umumnya dipahami. Etnosentris dalam hal tertentu juga merupakan hal positif. Etnosentris jelas bukan sesuatu yang harus  dihilangkan sama sekali. Ia patut dipelihara karena etnosentris memang fungisional. Dalam hal ini , etnosentris fleksibel lah yang harus dikembangkan. Tiga cara yang bisa kita lakukan untuk memperkuat etnosentris fleksibel menurut Matsumoto adalah
a.      Mengetahui bagaimana acar kita memahami realitas sebagaimana yang biasa kita lakukan dalam cara tertentu. Misalnya saja kita mengerti bagaimana kitta melakukan penilaian tentang kesopanan. Sebab apa yang sopan menurut budaya kita mungkin saja bukan merupakan kesopanan dalam budaya lain.
b.     Mengakui dan menghargai kenyataan bahwa orang-orang yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda memiliki perbedaan cara dalam memamhami realitas dan bahwa versi mereka tentang sebuah realitas adalah sah dan benar bagi mereka sebagaimana versi kita sah dan benar untuk kita.
c.      Mengetahui mengenai budaya sendiri dan budaya orang lain serta pengaruhnya terhadap cara-cara memahami realitas dalam keadaan tertentu tidak cukup untuk menumbuhkan etnosentris fleksibel. Harus juga dipelajari bagaimana untuk membedakan antar emosi , penilaian terhadap moralitas dan penilaian tergadap kepribadian yang sering disamakan dengan etnosentrisme dan cara pandang budaya.

Pengaruh Etnosentrisme
a.    Meningkatkan kesatuan, kesetiaan dan moral kelompok
Kelompok-kelompok etnosentris tampak lebih bertahan daripada kelompok yang bersikap toleran. Etnosentrisme mengukuhkan nasionalisme dan patriotisme. Tanpa etnosentrisme, kesadaran nasional yang penuh semangat mungkin sekali tidak akan terjadi.
b.    Perlindungan terhadap perubahan
Di negara Jepang pada abad ke-19, etnosentrisme telah dipakai untuk menghambat masuknya unsur asing ke dalam kebudayaan. Usaha menghambat perubahan kebudayaan semacam itu tidak pernah seluruhnya berhasil; perubahan terjadi pada bangsa Jepang. Karena tidak ada kebudayaan yang sama sekali statis, setiap kebudayaan harus berubah untuk mempertahankan kelangsungannya. Pada saat ini etnosentrisme di India membantu mempertahankan India dari kaum komunis, tetapi India tidak mungkin tetap non komunis bila tidak memodernisasikan teknologinya dan mengendalikan perkembangan penduduk dengan cepat dan perubahan ini dihambat oleh etnosentrisme. Jadi dalam situasi-situasi tertentu, etnosentrisme meningkatkan kestabilan kebudayaan dan kelangsungan hidup kelompok; dalam situasi lain, etnosentrisme meruntuhkan kebudayaan dan memusnahkan kelompok.

BAB III
PENUTUP

III.1.    Kesimpulan

            Etnosentrisme adalah sikap yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain.
Apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan budaya dan adat istiadat antarkelompok masyarakat tersebut akan menimbulkan konflik sosial akibat adanya sikap etnosentrisme. Sikap tersebut timbul karena adanya anggapan suatu kelompok masyarakat bahwa mereka memiliki pandangan hidup dan sistem nilai yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
Perbedaan yang terjadi ini dapat dikelola dengan menjalin suatu kerjasama baik itu dalam bidang pekerjaan yang dilakukan pendidikan atau yang lainnya. Seperti yang kita lihat sekarang di kalangan masyarakat melayu sendiri sudah banyak berbaur dengan etnik-etnik yang lain seperti batak, minang, cina dan lain sebagainya, dan juga sudah banyak masyarakat melayu yang hidup dan menikah dengan etnik yang berbeda darinya.
Segingga hal ini menunjukan bahwa kita harus selalu tetap menghormati etnik yang berbeda tersebut dan kita harus bangga dengan perbedaan yang ada tersebut karena denga adanya perbedaan itu bangsa kita kayakan berbagai etnik atau suku yang memiliki latar belakang yang berbeda tetapi satu asal atau nenek moyang.
           
III.2.    Saran

            Sebagai masyarakat Indonesia yang satu bangsa kita harus saling menghormati etnik yang lain agar tidak timbul suatu pandangan etnosentris, karena sebenarnya kita ini merupakan satu asal atau nenek moyang yang sama, hanya saja karena terjadi perluasan  masyarakatnya yang berpengaruh juga pada kondisi lingkungan sekitar atau tempat tinggal. Misalnya antara melayu dan batak dimana pada batak watak mereka ini keras yang berbeda dengan melayu, hal ini dikarenakan karena lingkungan tempat tinggal mereka beriklim panas yang membuat mereka dianggap kasar dan orang melayu menganggap bahwa bahasa merekalah yang paling baik karena lembut dan sopan.
            Dengan hal tersebut sebaiknya kita tidak boleh menganggap suatu yang  buruk akibat pandangan etnosentris ini bahwasanya kita itu adalah masyarakat yang satu bangsa tetapi berbeda-beda budaya atau kebiasaan yang dijalani, sebaiknya kita harus bangga adanya perbedaan itu karena bangsa kita itu kaya dengan budaya atau suku.



























DAFTAR PUSTAKA