SEMANGAT
MELAYU PADA SAAT INI DENGAN IMPLIKASI GERAKAN-GERAKAN PRO DAN KONTRA ETNOSENTRIS
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Suku bangsa adalah bagian dari suatu
bangsa. Suku bangsa mempunyai ciri-ciri mendasar tertentu. Ciri-ciri itu
biasanya berkaitan dengan asal-usul dan kebudayaan. Ada beberapa ciri yang
dapat digunakan untuk mengenal suatu suku bangsa, yaitu: ciri fisik, bahasa,
adat istiadat, dan kesenian yang sama. Contoh ciri fisik, antara lain warna
kulit, rambut, wajah, dan bentuk badan. Ciri-ciri inilah yang membedakan satu
suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Suku bangsa merupakan kumpulan kerabat
(keluarga) luas. Mereka percaya bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama.
Mereka juga merasa sebagai satu golongan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka
mempunyai bahasa dan adat istiadat sendiri yang berasal dari nenek moyang
mereka.
Sering
kita temui keadaan dimasyarakat para anggotanya pada kondisi tertentu, diwarnai
oleh adanya persamaan-persamaan dalam berbagai hal. Tetapi juga didapati
perbedaan-perbedaan dan bahkan sering kita temui pertentangan-pertentangan
serta menimbulkan suatu perbedaan kepentingan di dalam suatu kelompok.
Perbedaan
kepentingan sebenarnya merupakan sifat naluriah disamping adanya persamaan
kepentingan. Bila perbedaan kepentingan itu terjadi pada kelompok-kelompok
tertentu, misalnya pada kelompok etnis, kelompok agama, kelompok ideology
tertentu termasuk antara mayoritas dan minoritas.
Salah
satuya perbedaan ini adalah perbedaan kelompok etnis yang terjadi saat ini. Sebagai
konsekuensi dari identitas etnis muncullah etnosentrisme. Etnosentrisme yaitu
suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya
sendiri sebagai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan dipergunakan sebagai
tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Perbedaan
kepentingan ini yang menimbulkan suatu pandangan etnosentris terutama pada masyarakat
melayu. Sehingga dalam makalah ini penulis membahas bagaimana semangat melayu
pada saat ini dengan implikasi gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris.
I.2. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini yaitu mengetahui bagaimana semangat meleyu pada
saat ini dengan implikasi pada gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris yang
terjadi sekarang ini serta apa saja sisi positif dan negatif yang ditimbulkan
oleh hal tersebut.
I.3. Batasan Masalah
Agar pembahsan masalah ini menjadi
lebih fokus dan berbobot, di dalam penulisan makalah ini akan membahas semangat melayu pada saat ini dengan implikasi
gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris.
I.4. Metode Penulisan
Metode
yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu dengan mengambil informasi
dari beberapa buku serta informasi-informasi beberapa artikel dari media
internet.
I.5. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan pada
makalah ini yaitu :
-
BAB
I : PENDAHULUAN
Bab
ini berisikan tentang latar belakang masalah, tuuan penulisan, batasan masalah,
metode penulisan, serta sistematika penulisan.
-
BAB
II : PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan
tentang pembahasan semangat melayu pada saat
ini dengan implikasi gerakan-gerakan pro dan kontra etnosentris.
-
BAB
III : PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan
dari makalah ini dan saran yang penulis sampaikan kepada pembaca makalah ini.
-
DAFTAR
PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam mengelola suatu lingkungan yang
lebih luas cakupannya, dalam lingkungan global misalnya, tantangan yang
dihadapi akan menjadi lebih besar. Hal ini terjadi salah satunya karena adanya
perbedaan-perbedaan, baik dalam hal budaya yaitu perbedaan etnik.
Sesuatu
masyarakat atau budaya, seperti yang dinyatakan sebelumnya harus dipahami dalam
peristilahannya sendiri. Dalam mengatakan demikian bukanlah berarti bahwa kita
setuju dengan penggunaan satu bentuk ukuran umum untuk menilai sesuatu
masyarakat. Ukuran tersebut tersebut mungkin mencakup umur, keluaran negara
kasar (gross national product), hak demokrasi, tingkat melek huruf, dan
sebagainya. Tidak berapa lama dahulu satu amalan yang sering dilakukan oleh
masyarakat Eropa adalah menilai masyarakat di luar Eropa menurut persentase
penduduk yang memeluk agama Kristen.
Seandainya
persentase itu tinggi maka tinggilah posisi negara tersebut menurut kayu ukuran
yang digunakan. Penilaian terhadap manusia seperti yang dilakukan itu
sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pendekatan antropologi. Jadi, jika kita
ingin menilai mutu hidup dalam suatu negara atau masyarakat luar, kita harus
terlebih dahulu memahami masyarakat itu dari dalam; jika tidak penilaian yang
kita buat itu memiliki nilai ilmiah yang sangat terbatas. Apa yang dianggap
sebagai 'gaya hidup yang baik' dalam masyarakat Eropa misalnya, tidak selalu
menarik dan sangat-sangat diinginkan jika dinilai dari sudut dan posisi
masyarakat lain. Untuk memahami arti sebenarnya kehidupan sosial suatu
masyarakat, maka sangat perlu untuk kita mencoba mendalami terlebih dahulu
bagaimana alam nyata sesuatu masyarakat dipahami dan dirasakan sendiri oleh
anggota-anggotanya. Untuk berhasil dalam usaha ini, maka tidak cukup jika kita
hanya memilih beberapa 'angkubah' saja.
Ternyata
bahwa penggunaan konsep seperti 'pendapatan tahunan' tidak sesuai sama sekali
untuk sebuah masyarakat yang tidak mengenal mata uang dan tidak tahu akan
metode kerja yang diupah dengan uang. Penghujahan seperti di atas bisa dianggap
sebagai peringatan dini terhadap etnosentrisme. Istilah tersebut berasal dari
kata Yunani (ethnos berarti 'orang') etnosentrisme berarti bahwa kita menilai
masyarakat lain dari kaca mata kita sendiri, dan menggambarkan mereka dalam
peristilahan kita. Dengan demikian, fitur-fitur ethnos yang ada pada diri kita,
termasuk nilai budaya kita, dijadikan tolok ukur dalam penilaian tersebut.
Justru itu tidak heranlah jika orang lain atau masyarakat asing terlihat begitu
rendah taraf sosial dan budaya mereka jika dipandang dari kaca mata ethnos
kita.
Pandangan
etnosentrisme juga merupakan satu hambatan besar bagi usaha untuk memahami
masyarakat dan budaya lain dalam peristilahan mereka sendiri. Sebenarnya
antropologi tidak membandingkan masyarakat asing dengan masyarakat sendiri
serta menyusun berbagai masyarakat pada tingkat tinggi rendah, serta
menempatkan masyarakat kita pada anak tangga paling atas. Sebaliknya
antropologi mengharuskan kita memahami masyarakat yang berlainan itu seperti
yang terlihat dari dalam masyarakat tersebut. Antropologi tidak dapat
memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang berbunyi seperti berikut:
"Antara banyak masyarakat, masyarakat mana yang paling baik."
Jawabannya memang tidak akan ada semata-mata karena memang bukan sifat alami
disiplin antropologi untuk menanyakan pertanyaan seperti ini.
Jika
ditanya apakah bentuk hidup dan masyarakat yang sempurna, maka antropologis
hanya bisa memberikan jawaban bahwa setiap masyarakat itu memiliki definisi
masing-masing terhadap pertanyaan tersebut yang sudah pasti memiliki pengertian
yang berbeda. Lagipula, masalah etnosentrisme sangat sulit untuk dideteksi jika
dibandingkan dengan pendirian yang bersifat moralis. Etnosentrisme juga bisa
mempengaruhi konsep yang kita gunakan untuk memahami berbagai masyarakat di
muka bumi. Misalnya kita tidak bisa menggunakan konsep 'politik' dan
'kekerabatan' untuk masyarakat yang ternyata tidak memiliki pemahaman dasar
terhadap kedua konsep ini. Istilah politik mungkin ada dalam masyarakat asal
anggota etnografis, tetapi istilah tersebut mungkin tidak ada dalam masyarakat
yang dikajinya. Masalah dasar seperti ini akan dibahas kemudian dengan lebih
mendalam lagi.
Ada teori yang menyatakan
penduduk Indonesia berasal dari daratan Cina Selatan, Provinsi Yunan sekarang.
Ada juga teori “Nusantara.” Mari kita bahas kedua teori ini. Menurut teori
pertama Suku bangsa Yunan datang ke Indonesia secara bergelombang. Ada dua
gelombang terpenting.
1. Gelombang pertama terjadi sekitar 3000
tahun yang lalu. Mereka yang pindah dalam pe-riode ini kemudian dikenal sebagai
rumpun bangsa Proto
Melayu. Proto
Melayu disebut juga Melayu Polynesia. Rumpun bangsa Proto Melayu tersebar dari
Madagaskar hingga Pasifik Timur. Mereka bermukim di daerah pantai. Termasuk
dalam bangsa Melayu Tua adalah suku bangsa Batak di Sumatera, Dayak di Kalimantan,
dan Toraja di Sulawesi.
2. Gelombang kedua terjadi sekitar 2000 tahun
lalu, disebut Deutero
Melayu. Mereka
disebut penduduk Melayu Muda. Mereka mendesak Melayu
Tua ke pedalaman Nusantara. Termasuk bangsa Melayu Muda adalah suku bangsa
Jawa, Minangkabau, Bali, Makassar, Bugis, dan Sunda.
Etnosentris/ etnik atau suku bangsa
adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan
dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap
sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas
kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau
ciri-ciri biologis.
Menurut Matsumoto (1996)
etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut
pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu
negatif sebagimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga
merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan
bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme
juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam
perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme
benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrisme, kelompok yang terlibat
konflik dengan kelompok lain akan saling dukung satu sama lain.
Segi
positif etnosentrisme :
1. Menjaga
keutuhan suatu bangsa dan stabilitas budaya
2. Mempertinggi
semangat patriotisme
3. Dapat
mempertinggi kesetiaan terhadap bangsa (right or wrong is my country)
4. Dapat
meneguhkan cinta tanah air
Segi
negatif etnosentrisme :
1. Mengurangi
atau bahkan menghilangkan obyektifitas ilmu pengetahuan
2. Menghambat
hubungan antar bangsa
3. Menghambat
proses asimilasi dan integrasi
Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling
berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang
memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan
persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan
pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain
berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme
infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar
dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan
perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain
berdasarkan latar belakang budayanya.
Lawan dari etnosentrisme adalah etnorelativisme, yaitu
kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya
sama (Daft, 1999). Dalam etnorelativisme setiap etnik dinilai memiliki
kedudukan yang sama penting dan sama berharganya. Dalam bahasa filsafat, orang
yang mampu mencapai pengertian demikian adalah orang yang telah mencapai
tahapan sebagai manusia sejati; manusia humanis.
Adanya etnik lain yang muncul disekitar
lingkungan, khususnya lingkungan masyarakat melayu memberikan suatu dampak pada
perkembangan budaya melayu sendiri. Seperti munculnya etnik tionghoa yang
berkembang pada masyarakat melayu. Pro dan kontra pasti terjadi dengan adanya
hal tersebut, yang selalu membandingkan bahwa salah satu dari etnik ini
menganggap etniknya yag terbaik sehingga timbullah suatu konflik antara kedua
etnik ini.
Seiring dengan perkembangan zaman saat
ini keberagaman etnik yang muncul perlahan-lahan diterima oleh masyarakat
terutama masyarakat melayu seperti yang terjadi saat ini yang saling menjaga
toleransi diantar kedua etnik tersebut. Selain itu dalam bidang pekerjaan pun
saling membantu diantara kedua etnik tersebut yang mengenyampingkan etnik yang
dimiliki.
Timbulnya pandangan etnosentris ini
karena perbedaan kebiasaan yang sering dilakukan didalam lingkungan budaya kita
sendiri, pada saat kita pindah ke tempat yang lingkungan budayanya berbeda
dengan kita kebiasaan yang biasanya lazim dilakukan menurut mereka itu tidak
pantas dan tidak baik sehingga hal tersebut menimbulkan perbedaan yang
menganggap etniknya lah yang baik.
Menghormati keragaman suku bangsa
- Menerima suku-suku bangsa lain dalam pergaulan sehari-hari.
Dalam pergaulan di masyarakat, kita tidak hanya bertemu orang satu suku
bangsa.
- Menambah pengetahuan kita tentang suku-suku lain. Mempelajari
suku bangsa lain tidak harus datang ke daerah tempat tinggal
mereka.
- Tidak menjelek-jelekkan, menghina, dan merendahkan suku-suku
bangsa lain. Kita, manusia yang diciptakan Tuhan dengan harkat dan
martabat yang sama.
Keragaman suku bangsa merupakan
kenyataan bangsa kita. Inilah kekayaan bangsa kita. Kalau kita tidak
menghormati suku bangsa sendiri, kita tidak akan menjadi bangsa yang kuat. Kita
tidak boleh hanya membanggakan suku bangsa kita sendiri dan merendahkan suku
bangsa lain. Kalau kita tidak menghormati keanekaragaman suku bangsa, tidak
akan tercipta kedamaian dalam hidup bersama. Tidak adanya saling menghormati
antarsuku bangsa akan menimbulkan konflik. Contohnya banyak. Antara lain
konflik di Poso, konflik di Sambas, dan konflik di Maluku.
Sebagai konsekuensi dari identitas
etnis munculnya etnosentris , menurut Matsumodo(Mendatu,2006) , etnosentris
adalah kecenderung untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya
sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentris tidak selalu negative
sebagaimana umumnya dipahami. Etnosentris dalam hal tertentu juga
merupakan hal positif. Etnosentris jelas bukan sesuatu yang harus dihilangkan
sama sekali. Ia patut dipelihara karena etnosentris memang fungisional. Dalam
hal ini , etnosentris fleksibel lah yang harus dikembangkan. Tiga cara yang
bisa kita lakukan untuk memperkuat etnosentris fleksibel menurut Matsumoto
adalah
a. Mengetahui
bagaimana acar kita memahami realitas sebagaimana yang biasa kita lakukan dalam
cara tertentu. Misalnya saja kita mengerti bagaimana kitta melakukan penilaian
tentang kesopanan. Sebab apa yang sopan menurut budaya kita mungkin saja bukan
merupakan kesopanan dalam budaya lain.
b. Mengakui
dan menghargai kenyataan bahwa orang-orang yang berasal dari latar belakang
budaya yang berbeda memiliki perbedaan cara dalam memamhami realitas dan bahwa
versi mereka tentang sebuah realitas adalah sah dan benar bagi mereka
sebagaimana versi kita sah dan benar untuk kita.
c. Mengetahui
mengenai budaya sendiri dan budaya orang lain serta pengaruhnya terhadap
cara-cara memahami realitas dalam keadaan tertentu tidak cukup untuk
menumbuhkan etnosentris fleksibel. Harus juga dipelajari bagaimana untuk
membedakan antar emosi , penilaian terhadap moralitas dan penilaian tergadap
kepribadian yang sering disamakan dengan etnosentrisme dan cara pandang budaya.
Pengaruh Etnosentrisme
a. Meningkatkan
kesatuan, kesetiaan dan moral kelompok
Kelompok-kelompok etnosentris tampak
lebih bertahan daripada kelompok yang bersikap toleran. Etnosentrisme
mengukuhkan nasionalisme dan patriotisme. Tanpa etnosentrisme, kesadaran
nasional yang penuh semangat mungkin sekali tidak akan terjadi.
b. Perlindungan
terhadap perubahan
Di negara Jepang pada abad ke-19,
etnosentrisme telah dipakai untuk menghambat masuknya unsur asing ke dalam
kebudayaan. Usaha menghambat perubahan kebudayaan semacam itu tidak pernah
seluruhnya berhasil; perubahan terjadi pada bangsa Jepang. Karena tidak ada
kebudayaan yang sama sekali statis, setiap kebudayaan harus berubah untuk
mempertahankan kelangsungannya. Pada saat ini etnosentrisme di India membantu
mempertahankan India dari kaum komunis, tetapi India tidak mungkin tetap non
komunis bila tidak memodernisasikan teknologinya dan mengendalikan perkembangan
penduduk dengan cepat dan perubahan ini dihambat oleh etnosentrisme. Jadi dalam
situasi-situasi tertentu, etnosentrisme meningkatkan kestabilan kebudayaan dan
kelangsungan hidup kelompok; dalam situasi lain, etnosentrisme meruntuhkan
kebudayaan dan memusnahkan kelompok.
BAB III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Etnosentrisme adalah sikap yang
menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolok ukur
untuk menilai kelompok lain.
Apabila
tidak dikelola dengan baik, perbedaan budaya dan adat istiadat antarkelompok
masyarakat tersebut akan menimbulkan konflik sosial akibat adanya sikap
etnosentrisme. Sikap tersebut timbul karena adanya anggapan suatu kelompok
masyarakat bahwa mereka memiliki pandangan hidup dan sistem nilai yang berbeda
dengan kelompok masyarakat lainnya.
Perbedaan
yang terjadi ini dapat dikelola dengan menjalin suatu kerjasama baik itu dalam
bidang pekerjaan yang dilakukan pendidikan atau yang lainnya. Seperti yang kita
lihat sekarang di kalangan masyarakat melayu sendiri sudah banyak berbaur
dengan etnik-etnik yang lain seperti batak, minang, cina dan lain sebagainya,
dan juga sudah banyak masyarakat melayu yang hidup dan menikah dengan etnik
yang berbeda darinya.
Segingga
hal ini menunjukan bahwa kita harus selalu tetap menghormati etnik yang berbeda
tersebut dan kita harus bangga dengan perbedaan yang ada tersebut karena denga
adanya perbedaan itu bangsa kita kayakan berbagai etnik atau suku yang memiliki
latar belakang yang berbeda tetapi satu asal atau nenek moyang.
III.2. Saran
Sebagai masyarakat Indonesia yang
satu bangsa kita harus saling menghormati etnik yang lain agar tidak timbul
suatu pandangan etnosentris, karena sebenarnya kita ini merupakan satu asal
atau nenek moyang yang sama, hanya saja karena terjadi perluasan masyarakatnya yang berpengaruh juga pada
kondisi lingkungan sekitar atau tempat tinggal. Misalnya antara melayu dan
batak dimana pada batak watak mereka ini keras yang berbeda dengan melayu, hal
ini dikarenakan karena lingkungan tempat tinggal mereka beriklim panas yang
membuat mereka dianggap kasar dan orang melayu menganggap bahwa bahasa
merekalah yang paling baik karena lembut dan sopan.
Dengan hal tersebut sebaiknya kita
tidak boleh menganggap suatu yang buruk
akibat pandangan etnosentris ini bahwasanya kita itu adalah masyarakat yang
satu bangsa tetapi berbeda-beda budaya atau kebiasaan yang dijalani, sebaiknya
kita harus bangga adanya perbedaan itu karena bangsa kita itu kaya dengan
budaya atau suku.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar